Master Plan SIKDA suatu Proses menuju Perbaikan ?


Ass ..

Berlama-lama membaca tulisan kawan-kawan yang hari demi hari bersirat makin dalam, akhirnya membuat saya mecoba kembali menulis walaupun sedikit. Kalau tidak salah sudah sekitar 3 bulan saya absen menulis disebabkan banyak hal, salah satunya perubahan SOTK tempat kerja saya. Selanjutnya saat ini dengan suasana kerja yang baru, kami mencoba untuk mendiskusikan dan berkreasi diantaranya Master Plan SIKDA.

Sebelum lebih jauh, saat ini saya merasa semakin hari makna SIKDA makin membawa tanda tanya besar. Beberapa diskusi kecil yang saya ikuti dan melihat berbagai macam pendapat dengan mengatas namakan kebutuhan program, kebutuhan data pusat dan masalah yang diprediksi akan timbul dengan dikembangkannya Master Plan SIKDA. Sebelum lebih jauh lagi, saya juga berdoa dalam hati semoga Leadership berperan besar dalam proses penyusunan Master Plan SIKDA di daerah ini. Leadership dalam hal ini Kepala Dinas.

Sebelum si SIKDA ini dibuat katanya sistem dalam dinas itu sudah ada. Sejak zaman Dinas Kesehatan masih bernama Kantor Wilayah Departemen Kesehatan saja katanya sistem ini sudah ada. Namun kenyataannya apakah anda melihat sistem yang telah berjalan berpuluh tahun ini berjalan ?  Apakah alur data dari Puskesmas hingga ke Dinas Kesehatan sudah berjalan dengan baik sejauh ini ?

Banyak pertanyaan sebenarnya yang ingin saya utarakan ke teman-teman, mungkin karena dasar pendidikan saya jauh dari garis kesehatan hingga mengakibatkan saya harus banyak bertanya dan belajar.  Saat ini saya lebih melihat 75% data di Dinas Kesehatan merujuk pada kebutuhan Pusat saja. Simpulan itu sangat mudah dan menurut pandangan saya sangat realistis. Rasanya Supply anggaran dari Pusat ke Daerahlah yang menjadi dalang semua ini. Dana daerah bukan menjadi favorit dikandang sendiri sehingga pamor APBD saat ini hanya pelengkap saja.

Ini semua berdampak langsung maupun tidak pada kualitas data yang hanya mengakomodir keinginan pusat saja. Apa yang terjadi dengan Pabrik data di Dinas ? Apakah masih dapat memproduksi suatu informasi yang dapat dipergunakan sebagai bahan perencanaan?.  Jawabannya mungkin sudah kita ketahui bersama.

Petang tadi saya sempat diskusi bersama Pak Jemmy & Bu Meisy, seputar Master Plan SIKDA. Awalnya dari permintaan saya ke Pak Jemmy untuk menyempurnakan isi dan lampiran SK Tim Penyusun MasterPlan SIKDA. Tiba tiba Ibu Meisy yang kebetulan baru tiba dari pertemuan di aula juga diajak untuk berbicang2 sedikit. Dari diskusi singkat kami ada beberapa point yang saya anggap perlu disikapi lebih lanjut. Pertama, perlu dibentuk tim kecil dalam Subdin/Bidang yang beranggotakan tidak terlalu banyak. Tim ini bertugas untuk merumuskan berbagai hal utamanya alur data masuk dan keluar dalam Subdin/Bagian masing-masing. Selanjutnya tim penyusun dapat menganalisis rumusan tadi sebagai bahan pembanding, sehingga waktu tidak terbuang lebih banyak.

Berikut petikan kata yang saya sadur dari salah satu presentasi Pak Anis “Pengembangan SIKDA merupakan aktivitas yang kompleks, membutuhkan energi, keterbatasan sumberdaya dan berbagai kepentingan. Memerlukan ilmu dan seni manajemen

Semoga niatan kami dapat berjalan, banyak cara menuju suatu perubahan, kendala pasti ada, biasanya kawan-kawan mengistilahkan itu sebagai Proses.

10 pemikiran pada “Master Plan SIKDA suatu Proses menuju Perbaikan ?

  1. Yakin & hakkul yakin bahwa dengan master plan sebagai alat menuju perbaikan. Ibarat membuat baju, master plan itu adalah peteron. Jadi menggunting kain itu dengan pas, tidak banyak terbuang, karena mengikuti peteron yang ada. Akhirnya tidak terjadi tambal sulam. Selamat berjuang kawan ………….

  2. masalahnya itu gini mas… kita yakin mengikuti peteron bakal tidak banyak yang terbuang.. nah gimana kalau peteronnya yang agak kurang tepat gitu🙂

    banyak langkah2 pengembangan sikda yang terbukti dilapangan kurang berjalan dengan lancar karena memang acuan yang dibuat banyak berangkat dari hal yang konseptual, text book, dengan banyak teori baik dari sisi manajemen, teknis, maupun organisasi, tapi begitu diterapkan di lapangan banyak yang gak pas.

    saya mengalami sendiri dari sisi ilmu teknis, struktur data saya misalnya banyak yang bilang ‘ngaco’ hehe.. padahal bukan berarti saya gak tau ilmu atau pakemnya, tapi karena kalau saya memang mengacu ke teori dan buku, maka program saya gak bakal bisa berjalan di (level) puskesmas.

    nah tantangannya sekarang, bagaimana membuat master plan yang seminimal mungkin tidak melenceng dari yang seharusnya berjalan.

  3. to haris : katanya simkes mau bikin reuni di akhir tahun ini, mungkin kalo ada modal & waktu bisa sama2 main, tapi klo bang haris sudah pasti harus ikut ..

    to konke : terima kasih masukkannya boss, tolong dibantu2 saya ya ..

    to jojok : memang betul yang dibilang mas jojok, sayapun punya pemikiran yang sejalan dengan mas jojok. Sebaiknya memang isi master plan tsb jangan terlalu diatas awan lah, kalo kata om Dino pake bahasa bumi saja, jangan terlalu diatas awan.

  4. Untuk Mas Jojok, itulah penyakitnya jika unsur teknisnya muncul dari belakang.
    Makanya dalam menyusun master plan, harus dilibatkan semuanya (manajemen, organisasi, termasuk dari unsur teknis). Dan yg terlibatlah disini semestinya ikut bekerja. Jangan dari unsur teknis siluman yg muncul, tentulah tidak sinkron bahasanya, master plan berbahasa awan, sedangkn dari unsur teknis masih berbahasa bumi. Tetapi jika unsur teknis ikut membahas master plan, tentu tidak terjadi bahasa awan, karena dari unsur teknis yang memberi masukan bahwa bahasanya tidak boleh sampai ke awan, hanya sampai di bumi yang dapat dilaksanakan.

    Untuk Chandra, soal isi master plan, dibuat sesuai yang dapat dilaksanakan (libatkan semua supaya tidak terjadi bahasa awan, pakai bahasa bumi saja tetapi bisa berjalan di bumi sampai di akherat….)

  5. membuat masterplan ,memang harus di buat secara integral semua pihak harus dilibatkan. oya salam kenal ya .ditunggu ke hadirannya. ya .ditunggu

  6. Ada – ada saja Daeng Konke-konke ini…..he….Dasar juragan t baju….jadi daeng konke mengibaratkan masterlplan SIKDA itu sebagai peteron…..BTW, peteron itu apa yah daeng?….mungkin kita perlu lebih banyak berdiskusi mengenai PETERON ini….heee…..

    Mengenai rencana om…..Om, kenap gak disadur aja dari berbagai sumber yang sudah punya masterplan SIKDA nya….misalnya Jogja….atau bahkan Depkes….Di sadur maksudnya disesuaikan dengan kondisi daerah mu….

    Aku optimis bisa, namun pasti banyak waktu dan uang yang diprrlukan untuk mewujudkan rencana om itu….

    Yang pasti, om….om harus petakan dulu stakeholder yang akan di libatkan…trus perbanyak diskusi dengan mereka, merangkul mereka adalah salah satu midal terbesar untuk mewujudkan rencana om itu…Karena aku yakin tidak semua stakeholder merasa “rencana om dkk itu PENTING” untuk dilakukan…..

    Pengembangan SIK di daerah adalah sama dengan usaha “pemberdayaan” memakan waktu yang tidak sedikit…serta tahapan kerja yang sistematis….

    Bravo, om…..

  7. Waduh…diskusi yang merus-menerus menarik.
    Menurut saya,… tiap propinsi layak membangun master plan yang murni dari kemandiriannya dengan mengacu pada tujuannya masing-masing saja.
    Kelak ada yang berhasil tetapi lamban, akan bisa memperbaiki kelambanannya. dab bagi yang sukses tentu bisa dirujuk oleh yang lain yang berminat. Yang gagalpun akan merupakan acuan mengapa sampai gagal.
    Tahap setelah semua dipertemukan… akan kembali bisa menata sendiri dimana salahnya. Tapi kalo satu patron bersama lalu agagal… yah.. itulah yang sekian puluh-puluh tahun ini dialami, dijalani dan tak beranjak kita maju… tetap saja kita tiap kali ganti sandal dan berjalan maju munduuuur.
    Moga-moga tak begitu yahchh…. Selamat berjalan…wahai kawanku. Aku lagi lelah…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s